Proses Perkawinan Serta Reproduksi Burung Parkit

Proses Perkawinan serta reproduksi Burung parkit yang dilakukan oleh burung parkit merupakan hal yang bersifat alami. Namun dalam proses perkawinan dan reproduksi Burung parkit ini perlu adanya campur tangan dari penangkar agar dapat menghasilkan suatu produk yang maksimal. Campuran tangan yang dimaksud adalah dengan cara kita menyiasati bagaimana agar calon indukan burung parkit melakukan proses reproduksi tersebut.

Pertama, mengondisikan kandang penangkaran setenang mungkin agar tidak terjadi hal yang dapat membuat burung parkit merasa terancam. Kedua, menyiapkan glodok tempat bertelur yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasangan burung parkit. Hal ini bertujuan agar burung parkit bebas memilih tempat mereka bertelur.

Artikel terkait.

Dalam memilih glodok sebagai tempat bertelur oleh sepasang induk yang siap telur pasti terjadi persaingan dengan pasangan lain. Oleh karena itu alasan mengapa perlu disediakan glodok yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah pasangan parkit yang ditangkarkan.images (16)

Pada saat memilih glodok, burung masih dalam suasana belum aman, sehingga mereka masih berdiri di depan lubang, sebagai pintu masuk glodok karena masih adanya ancaman dari pasangan lain yang belum mempunyai tempat bertelur.

Parkit jantan selalu mengawasi di atas glodok dan menjaga dari gangguan dari pasangan lain. Setelah keadaan aman, maka parkit betina pun cepat masuk ke dalam glodok.

Proses perkawinan berlangsung setelah burung parkit ganti bulu muda. Kisaran usia pada tahapan ini adalah sekitar 3,5 bulan. Sebelum mereka melakukan perkawinan, mereka memilih glodok yang disukai untuk dijadikan tempat meletakkan telur-telur mereka. Proses perkawinan diawali dengan rayuan dari parkit jantan baik dengan menggunakan tingkah lakunya maupun suara atau siulannya.

Setelah proses merayu, parkit betina pun memposiskan badannya untuk siap dikawin oleh parkit jantan. Hal ini dilakukan oleh kedua induk parkit secara berulang-ulang. Tidak hanya satu sampai tiga kali, bisa lebih dari lima kali proses perkawinannya.

Pengeraman

Artikel terkait.

Setelah melakukan perkawinan, burung parkit akan segera bertelur. Jumlah telur mereka rata-rata 4-6 butir. Proses pengeraman dilakukan oleh parkit betina.images (17)

Ketika burung parkit betina mengeram, burung parkit jantan sibuk mencari pakan untuk meloloh burung betina tersebut agar kualitas pengeramannya berjalan dengan baik. Proses pengeraman sendiri berjalan selama 14 hari. Pemeliharaan saat pengeraman adalah dengan memberikan pakan dalam jumlah tak terbatas dan jangan sampai telat.

Anakan

Setelah usia pengeraman 14 hari, maka telur akan menetas. Anakan yang dihasilkan tergantung yang berhasil dibuahi. Jika kualitas indukan baik dalam proses reproduksi ini, secara kuantias anakan yang dihasilkannya pun juga lebih maksimal. Pada saat meloloh anakan, indukan jantan mencari pakan untuk dilolohkan kepada indukannya kemudian diberikan kepada anak-anaknya.

Pertumbuhan anakan kemungkinan tidak sama walaupun dalam satu glodok, hal ini dikarenakan proses bertelur dan waktu pengeraman tidak sama. Pada umur 1 minggu anakan masih dalam pengeraman induk betinanya.

Saat usia kurang lebih 1 minggu, anakan sudah mulai tumbuh bulu. Bulu mereka akan lengkap setelah berusia 30 hari dan kemungkinan sudah ada yang keluar dari glodok untuk belajar terbang dan belajar makan sendiri.

Pembesaran anakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu anakan dibesarkan oleh induknya sendiri dan anakan dibesarkan oleh penangkar. Anakan yang dibesarkan oleh induknya sendiri berjalan secara alami, anakan diasuh oleh kedua induknya.

Caranya indukan memberikan pakan melalui paruh atau biasa disebut dengan proses meloloh. Pakan yang diberikan pun sesuai dengan apa yang diberikan oleh penangkar kepada burung indukannya.

Namun anakan yang dibesarkan oleh penangkar, meloloh anakan dengan cara memberikan pakan melalui spuit atau alat yang terbuat dari suntikan. Ujung suntikan diganti dengan karet dop sepeda agar tidak membahayakan mulut burung dan agar bisa mengalirkan makanan masuk ke dalam mulut.

Pakan yang diberikannya pun berbeda dengan pakan yang diberikan kepada indukannya. Formula pakan yang diiberikan bisa terdiri dari roti atau bubur bayi ditambah dengan susu bubuk untuk pertumbuhan. Bubuk tersebut dilarutkan dengan sedikit air agar bisa dicerna dan dimasukkan ke dalam mulut dengan menggunakan spuit.

Anakan diambil dari sarangnya ketika sudah bisa membuka matanya atau sekitar umur 1 minggu agar anakan bisa melihat ketika sedang diloloh oleh penangkar.  Pembesaran melalui teknik ini pun juga dibutuhkan sangkar inkubasi. Sangkar inkubasi dilengkapi dengan bohlam penghangat dan termometer agar suhu dalam ruangan seperti suhu pengeraman yaitu 37-38 derejat Celcius.

Pemberian pakan dilakukan oleh penangkar setiap 3 jam sekali, bisa dilakukan pukul 06.00, 09.00, 12,.00, 15.00, dan 18.00. Untuk jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan umur atau bisa dengan indikasi tembolok anakan burung sudah terlihat penuh. Hal tersebut dilakukan rutin setiap hari sampai anakan bisa makan sendiri atau lepas sapih.

Keunggulan dari pembesaran anakan oleh penangkar adalah kurang lebih dari satu minggu setelah anakan burung diambil dan dirawat oleh penangkar, indukan akan segera kawin dan bertelur. Jadi, dengan kata lain secara kuantitas hasil produksi dalam satu tahun lebih banyak dari pembesaran yang dilakukan oleh indukannya mencapai 5 kali, sedangkan pembesaran oleh penangkar bisa mecapai 10 sampai 14 kali.

Menyapih Anakan

Saat menyapih anakan, benar-benar kita perhatikan dengan seksama, apakah anakan tersebut sudah saatnya dipisah atau belum. Indikasi yang dapat kita pakai dalam menyapih anakan adalah anakan tersebut sudah bisa mandiri dalam mengkonsumsi makanan dan mampu melindungi diri. Anakan yang baru saja bisa makan sebaiknya jangan dipisah dari induknya terlebih dahulu.

Biarkan anakan tersebut dalam satu kandang kecil dalam penangkaran. Jika pada saat anakan sedang belajar makan sendiri tersebut mengalami kesulitan dalam mendapatkan dan mengkonsumsi makanan, masih ada induknya yang bisa meloloh di dalam sangkar kecil di dalam sangkar kecil di kandang penangkaran tersebut.

Setelah anakan benar-benar sudah mampu mengkonsumsi sendiri dan bisa terbang, kita bisa memisahkannya di kandang lain. Usahakan anakan burung parkit yang sudah dipisah tadi ditempatkan dalam suatu populasi yang umurnya hampir sama agar tidak terjadi sifat kanibal dan umumnya umur yang lebih dewasa selalu menang dalam suatu persaingan mengkonsumsi pakan.

Pada umumnya burung parkit indukan akan bertelur kembali walaupun anakan yang dirawatnya belum bisa hidup mandiri. Ini merupakan proses yang biasa terjadi. Anakan yang dihasilkan juga tetap dirawat oleh induknya di samping mereka sedang mengeram. Burung parkiti jantan senantiasa meloloh anakan maupun pasangannya yang sedang mengeram. Proses seperti ini berjalan pada periode bertelur selanjutnya.

Tulisan terkait :
loading...
Proses Perkawinan Serta Reproduksi Burung Parkit | Penulis | 4.5