Kelebihan Burung Hwa Mei

Kelebihan burung hwa mei.Rasanya tidak berlebihan jika hwa mei dikatakan sebagai burung berkicau impor paling unggul antara burung berkicau jenis lain. Selama ini, di arena kontes, burung ini dijadikan maskot atau burung yang paling menarik minat penggemar untuk menyaksikan.

Sepertinya, arena kontes tidak menarik tanpa kehadiran hwa mei. Hal ini disebabkan jenis burung berkicau lokal unggul lainnya hanya sebgai peserta untuk memeriahkan kontes atau hanya bersifat pameran.

Artikel terkait.

Bisa Menirukan Suara Burung Lain

Untuk meningkatkan kualitas suaranya, hwa mei harus dapat menirukan suara burung lain, sehingga kicauannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini dilakukan bukan karena suara aslinya tidak baik, tetapi karena juri menuntut hal tersebut.

Sebenarnya yang cepat ditirunya dan bisa menambah perolehan nilai adalah suara burung yang vokalnya tidak berbentuk, tetapi mempunyai suara ujung yang tajam. Meskipun demikian, hwa mei yang cerdas dalam meniru suara burung lain, akan mampu meniru kicau burung lain yang vokalnya berbentuk, seperti suara elang dan kacer. Suara kicau tersebut hanya bisa didengar saat ia berkicau sendirian dan bukan di arena kontes.

Dalam meniru suara atau kicau burung lain ini sebaiknya hwa mei tidak dibiarkan meniru suara burung yang tidak mampu mengangkat kualitas suaranya sendiri, misalnya suara burung elang, kutilang, kacer, dan poksai. Bagaimanapun tidak bisa membedakan suara yang baik dan suara yang kurang baik untuknya. Cara mencegah hwa mei menirukan suara burung lain adalah dengan tidak mendampingkan dengan burung tersebut.kelebihan burung hwa mei

Kemampuan Berkicaunya Sangat Tinggi

Begitu dibuka kain penutup sangkarnya, hwa mei yang telah terlatih akan segera berkicau tanpa henti. Sepertinya, variasi suaranya tidak terputus dan tempo atau kecepatannya dalam berkicau sulit dibendung, terlebih lagi jika lawan tandingnya berkualitas.

Artikel terkait.

Tinggi kecepatannya dalam berkicau hanya bisa disaingi oleh burung lokal, seperti murai batu. Itu pun belum sepenuhnya dapat disamakan.

Penggemar burung di arena kontes sering menyebut hwa mei sebagai burung tempur “jempolan”, karena sering mempertontonkan kekerasannya dalam berkicau. DI negara asalnya (Cina), hwa mei akan diadu di arena kontes sesungguhnya sesudah peserta sama-sama panas.

Barangkali banyak penggemar yang belum mengetahui bahwa hwa mei yang telah terlatih mampu “membunuh” lawan tandingnya ibarat elang mencabik-cabik tikus yang diburunya. Begi kerasnya karakter hwa mei, hingga dalam kontes, bisa menurunkan mental lawannya yang memiliki kicau kurang baik.

Berkicau Sambil Bergaya

Daya tarik lain dari hwa mei adlah selalu berkicau sambil bergaya, terutama jika diplihara dan terlatih dengan baik. Ciri khas penampilannya adalah saat suara atau kicaunya dilombakan, getaran sayapnya tampak lebih dominan ketika ia berkicau.

Getaran sayapnya akan lebih tampak menarik jika ekornya ikut dikembangkan atau dibentangkan seperti kipas. Gaya yang satu ini tidak dimilki oleh semua hwa mei. artinya tidak semua hwa mie mampu melakukannya dengan baik.

Hwa mei yang bisa mengembangkan ekornya saat berkicau menjadi salah satu kriteria atau ukuran kualitasnya. Di habitatnya, bergaya sambil berkicau adalah daya tariknya untuk memikat betina saat musim kawin. Hal seperti ini juga banyak dilakukan anggota keluarga timaliidae lainnya, seperti poksai hitam.

Ekor mengembang saat hwa mei berkicau merupakan bakat bawaan. Hal ini bisa dilihat setelah hwa mei dipelihara beberapa bulan. Jadi, hwa mei bakalan yang potensial, salah satunya harus bisa mengembangkan ekornya yang bisa dilihat dengan cara mendekatkan betina kepadanya.

Hwa mei yang dilatih secara baik dan teratur, gayanya saat berkicau akan semakin menarik dan akan mengatur penampilannya saat dilombakan. Sebenarnya, masih ada hal lain yang menjadi daya tariknya, yakni jika hwa mei ditempatkan di sangkar antik atau sangkar ukir. Namun, hal ini biasanya hanya dilakukan oleh pemilik yang berkantung tebal.

Tulisan terkait :
loading...
Kelebihan Burung Hwa Mei | Penulis | 4.5